Sebagian dari kita mungkin masih mendengar bahwa standar bahasa penulisan di indonesia adalah EYD (ejaan yang disempurnakan). Sekedar informasi aja Bahwa Perubahan sistem ejaan terutama penulisan bahasa indonesia sudah terjadi beberapa kali, pada 1947 menggunakan Ejaan Soeswandi, kemudia digganti dengan ejaan Melindo pada 1959 dan EYD (Ejaan
Dari Ejaan Soewandi sampai Konfrontasi. Setelah Sumpah Pemuda 1928, ada desakan dari masyarakat terutama para ahli bahasa untuk menyempurnakan Ejaan Ophuijsen. Maka pada 1938, digelar Kongres Bahasa Indonesia I di Solo, dan baru pada 1947 ejaan baru hadir dengan nama Ejaan Soewandi, diambil dari nama Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan.
1.1.1 Latar Belakang. Masyarakat Indonesia yang heterogen menyebabkan munculnya sikap yang beragam terhadap penggunaan bahasa yang ada di Indonesia, yaitu (1) sangat bangga terhadap bahasa asing, (2) sangat bangga terhadap bahasa daerah, dan (3) sangat bangga terhadap bahasa Indonesia. Baca juga : Kolonialisme dan Imperialisme: Soshum SIMAK UI.
Sejarah ejaan bahasa Indonesia diawali dengan ditetapkannya Ejaan tentang cara penulisan bahasa dengan menggunakan huruf, kata, kalimat, dan tanda baca sebagai sarananya (KBBI Daring, 2016).
Karena penuntun itu perlu dilengkapi, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang dibentuk oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya tanggal 12 Oktober 1972, No. 156/P/1972 (Amran Halim, Ketua), menyusun buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang berupa pemaparan kaidah ejaan yang lebih luas.
nfUEs.
pertanyaan tentang sejarah ejaan bahasa indonesia